Powered By Blogger

Kamis, 17 April 2014

ALIRAN EKSISTENSIALISME DALAM PANDANGAN FILSAFAT PENDIDIKAN

                                                                           

1.      Tabel Pendidikan Menurut Pandangan Aliran Filsafat Eksistensialisme
No
URAIAN
PENJELASAN
1
Dasar Filosofis
Manusia adalah individu yang bebas. Bebas untuk melakukan dan mendefinisikan dirinya sendiri secara individual. Manusia tidak lain adalah bagaimana dia menjadi dirinya sendiri dan menyadari adanya orang lain, sehingga dapat menciptakan dunianya sendiri yang berarti bagi dirinya dan bagi kehidupan orang lain atau lingkungannya, (Sunarso, 2010:01)
2
Tokoh
Eksistensialisme pada awalnya berasal dari pemikiran Soren Kierkegaard (Denmark: 1813-1855). Inti masalahnya ialah: apa itu kehidupan manusia? Apa tujuan dari kegiatan manusia? Bagaimana kita menyatakan keberadaan manusia? Pokok pemikirannya dicurahkan kepada pemecahan yang kongkret terhadap persoalan arti “berada” mengenai manusia, (Sobri, 2013).


Martin Heidegger (1889-1976), Heidegger memajukan tiga soal pokok: siapakah manusia itu? Apakah wujud (being) yang kongkrit? Dan satu lagi, soal yang paling serius: Apakah wujud (being) realitas tertinggi itu? . Soal yang paling pokok bagi Heidegger adalah: Apakah arti kata-kata "Aku ada"?. Manusia adalah suatu makhluk yang 'terlempar' di dunia ini tanpa persetujuannya. Ia perlu mengakui keterbatasannya. Ia ke luar dari jurang yang sangat dalam, untuk menghadapi jurang yang sangat dalam. Dalam menghadapi ketidakadaan (nothingness) ia gelisah, tetapi kegelisahannya memungkinkan untuk menjadi sadar tentang eksistensinya. Dalam mempelajari dirinya, manusia menemukan soal-soal kesementaraan (temporality), takut dan khawatir, hati kecil dan dosa, ketidakadaan dan mati, (Sudrajat, 2012)


Jean-Paul Sartre, Manusia mangada dengan kesadaran terhadap dirinya sendiri. Keberadaan manusia berbeda dengan benda-benda yang lain, (Sunarso, 2010:07)
3
Pendidik (Guru)
a.       Guru mempunyai peranan dominan dalam penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di kelas.
b.      Guru hendaknya orang yang telah menguasai suatu cabang ilmu, seorang guru yang ahli (a mas­ter teacher) bertugas membimbing diskusi yang akan memudahkan siswa menyimpulkan kebe­naran-kebenaran yang tepat, dan yang wataknya tanpa cela. Guru dipandang sebagai orang yang memiliki otoritas dalam suatu bidang pengetahu­an dan keahliannya tidak diragukan, (Sobri, 2013).                                   
c.       Guru hendaknya memberi semangat kepada murid untuk memikirkan dirinya didalam suatu dialog. Guru menanyakan tentang ide-ide yang dimiliki murid, dan mengajukan ide-ide lain, dan membimbingnya untuk memilih alternatif (- Nurwatiazzah, 2011).
4
Peserta Didik (Siswa)
Peserta didik (siswa) merupakan  makhluk rasional dengan pilihan bebas dan tanggung jawab atas pilihannya dan siswa dipandang sebagai makhluk yang utuh yaitu yang akal pikiran, rohani, dan jasmani yang semua itu merupakan kebulatan dan semua itu perlu dikembangkan melalui pendidikan. Dengan melaksanakan kebebasan pribadi, para siswa akan belajar dasar-dasar tanggung jawab pribadi dan sosial (Gandra, 2013).
5
Kurikulum
Kurikulum eksistensialisme memberikan perhatian yang besar terhadap humaniora dan seni. Karena kedua materi tersebut diperlukan agar individu dapat mengadakan introspeksi dan mengenalkan gambaran dirinya. Pelajaran harus didorong untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan, serta memperoleh pengetahuan yang diharapkan. Kurikulum yang diutamakan adalah kurikulum liberal. Kurikulum liberal merupakan landasan bagi kebebasan manusia. Kebebasan memiliki aturan-aturan. Oleh karena itu, disekolah diajarkan pendidikan sosial, untuk mengajar “respek” (rasa hormat) terhadap kebebasan untuk semua, (Gandra, 2013).
6
Metode
Tidak ada pemikiran yang mendalam tentang metode, tetapi metode apapun yang dipakai harus merujuk pada cara untuk mencapai kebahagiaan dan karakter yang baik. Adapun ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam aliran ini antara lain:
1)      Diskusi, diharapkan siswa dapat bekerja sama dengan teman untuk mencari dan merumuskan suatu gagasan dengan ide dan kreatifitas masing-masing.
2)      Metode latihan mental, misalnya pemberian tugas; dan penugasaan pengetahuan, misalnya melalui penyampaian informasi dan membaca(Sobri, 2013).
7
Hasil
Manusia itu sendirilah yang dapat menentukan baik atau buruknya dirinya. Ungkapan dari aliran ini adalah “ Truth is subjectivity” atau kebenaran terletak pada pribadinya maka disebutlah baik, dan sebaliknya apabila keputusan itu tidak baik bagi pribadinya maka itulah yang buruk.

2.      Cermati fenomena pendidikan  di lapangan yang sejalan dengan aliran filsafat tersebut (rujukan media cetak/elektronik), dan deskripsikanlah fenomena hasil amatan anda tersebut (maksimum  satu halaman saja, dengan menyebutkan sumbernya).
Fenomena pendidikan dilapangan yang sejalan dengan aliran filsafat eksistensialisme kami rujuk dari media online berikut :

Surabaya
Alif , putra Ny Siami, dipaksa wali kelasnya memberikan contekan secara massal kepada teman-temannya pada saat Ujian Nasional SD baru-baru ini. Bahkan sebelum UN ada simulasi pencontekan massal segala. Tidak setuju dengan tindakan guru sekolah tersebut, Ny Siami melaporkan kasus ini ke Dinas Pendidikan Surabaya. Akibat perbuatan guru wali kelas tersebut, Dinas Pendidikan kemudian memberi hukuman mutasi dan penurunan pangkat kepada oknum guru dan kepala sekolah (yang dianggap ikut bertanggung jawab). Eh, warga sekitar sekolah yang tidak lain orangtua murid-murid SDN Gadel 2 tidak terima dengan hukuman tersebut, mereka marah kepada Ny Siami dan keluarganya. Warga berunjuk rasa dan mengecam Ny Siami yang dianggap sok pahlawan, dan puncaknya warga mengusir keluarga Ny Siami keluar dari kampung.
Alif Ahmad Maulana, siswa SDN Gadel II, Tandes, Surabaya yang membeberkan contek massal menjadi narasumber bagi teman-teman sebayanya. Puluhan anak SD dan SMP terlihat antusias bertanya soal sikap Alif yang enggan memberi contekan ke teman-temannya. Alif pun menjawab dengan spontan meski terlihat malu-malu. "Saya senang (tidak mencontek)," tutur Alif di kantor DPP KNPI, Jl Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (29/6/2011).
"Kalau besar nanti jadi apa saja mau, yang penting jujur dan berguna," cetus Alif saat ditanya soal cita-citanya oleh anak-anak yang lain.
Hasil Ujian Nasional (UN) Alifa Ahmad Maulana, berada di posisi pertama di SD Gadel 2 Surabaya. Nilai akhir rata-rata Alif dari tiga mata pelajaran (mapel) UN yakni Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam mencapai 9,1.
"Dengan rata-rata nilai 9,1, Alif ranking satu di SD Gadel 2, " ungkap Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Harun, Jumat (17/6).
Nilai UN Alif untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia mencapai 9,6 dan untuk nilai sekolah mencapai 8,75. Dengan perolehan itu, nilai akhir Bahasa Indonesia untuk Alif mencapai 9,3. Untuk nilai mapel Matematika, Alif mendapat 8,5 untuk UN dan 8,83 untuk nilai sekolah. Dengan dua perolehan itu, maka nilai akhir Alif untuk mapel Matematika mencapai 8,6. Sementara untuk nilai IPA, Alif mendapat 9,75 untuk UN dan 8,88 untuk nilai sekolah. Nilai akhir Alif untuk pelajaran IPA mencapai 9,4. Rata-rata nilai akhir Alif mencapai 9,1.

Fenomena tersebut menjelaskan bagaimana seorang Alif (peserta didik) mempunyai rasa tanggung jawab yang besar, ia menolak melakukan contek massal disekolahnya meskipun kesempatan itu ada dan diinstruksikan oleh guru (pendidik).  Dia paham bahwa kejujurannya membawa resiko namun ia tetap percaya bahwa dengan bersikap jujur akan membawa hikmah tersendiri. Dan ternyata berwujud pada hasil nilai UN Alif yang tertinggi disekolahnya meskipun tanpa melakukan contek massal.



3.      Analisislah dasar filosofi tentang fenomena yang anda deskripsikan itu  (tuliskalnlah end note nya: Nama Penulis, tahun, halaman)
Analisisnya adalah sebagai berikut :
Alif (peserta didik) : Alif telah belajar mengenai rasa tanggung jawab dengan cara melaksanakan kebebasan pribadi tanpa mematuhi perintah guru yang bertentangan dengan norma kedisiplinan yang ada dengan cara tidak memberikan contekan kepada teman-temannya. Hal ini sesuai dengan teori bahwa Peserta didik (siswa) merupakan  makhluk rasional dengan pilihan bebas dan tanggung jawab atas pilihannya dan siswa dipandang sebagai makhluk yang utuh yaitu yang akal pikiran, rohani, dan jasmani yang semua itu merupakan kebulatan dan semua itu perlu dikembangkan melalui pendidikan. Dengan melaksanakan kebebasan pribadi, para siswa akan belajar dasar-dasar tanggung jawab pribadi dan sosial (Gandra, 2013).
Guru (Pendidik) : Dalam kasus ini guru menganggap dirinya yang paling berkuasa dengan menginstruksikan kepada para muridnya untuk melakukan contek massal ketika UN. Ada teori yang mengatakan bahwa Manusia yang bereksistensi adalah manusia yang mempunyai keinginan untuk berkuasa (will to power), dan untuk berkuasa manusia harus menjadi manusia super (uebermensh) yang mempunyai mental majikan bukan mental budak. Dan kemampuan ini hanya dapat dicapai dengan penderitaan karena dengan menderita orang akan berfikir lebih aktif dan akan menemukan dirinya sendiri (Friedrich Nietzsche, 1844-1900).
4.      Kemukakanlah kelemahan dan kelebihannya
Adapun Kelemahan dan Kelebihan Aliran Fislasafat Eksistensialisme adalah sebagai berikut:
a.       Kelebihan Eksistensialisme
y       Menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna.
y       Memberi semangat dan sikap yang dapat diterapkan dalam usaha pendidikan.
b.      Kekurangan Eksistensialisme
y       Sangat  tidak puas  dengan sistem filsafat tradisional yang bersifat dangkal, akademis dan jauh dari kehidupan.
y       Penolakan untuk dimasukkan dalam aliran filsafat tertentu.
5.      Daftar Pustaka:
-          Sunarso, (2010), Mengenal Filsafat Eksistensialisme Jean-Paul Sarte Serta Implementasinya dalam Pendidikan, Yogyakarta: Jurusan PKNH FISE UNY
-          Sobri, M.(2013, Februari), Filsafat Pendidikan Eksistensialisme dan Kontribusinya terhadap Pendidikan Islam, [online], diakses pada tanggal 26 Desember 2013dari http://sobrimoh.blogspot.com/2013/02/filsafat-pendidikan-eksistensialisme_2070.html
-          Sudrajat, Filsafat Eksistensialisme Dan Fenomenologi, [online] diakses pada tanggal 26 Desember 2013 dari : http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Prof.%20Dr.%20Ajat%20Sudrajat,%20M.Ag./BAB%20%205%20-%20FILSAFAT%20EKSISTENSIALISME.pdf
-          Nurwatiazzah, (2011, Desember), Filsafat Pendidikan Eksistensialisme, [online] diakses pada tanggal 26 Desember 2013 dari : http://nurwatiazzah.blogspot.com/2011/12/filsafat-pendidikan-eksistensialisme.html

-          Gandra, Muhazir, (2013, Mei), Aliran Eksistensialisme dan Implikasinya dalam Pendidikan, [online] diakses pada tanggal 26 Desember 2013 dari http://kopite-geografi.blogspot.com/2013/05/aliran-eksistensialisme-dan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar